Pekerjaanku, Cita-cita ku (by : Nalla Arwi)
Aku terlahir dari keluarga yang sangat dekat dengan dunia pendidikan. Ya Bapak dan Ibuku adalah seorang guru dan sudah mengabdikan dirinya berpuluh-puluh tahun lamanya. Bahkan sebelum memasuki masa pensiun Bapak meninggal dunia. Bisa dibilang sepanjang hayat beliau mengabdikan dirinya untuk terjun di dunia pendidikan. Tidak heran jika ketiga anaknya mengikuti jejak orang tua.
Kakak pertama ku dulu pernah menjadi guru sekolah farmasi bahkan kepala sekolah di sekolah tersebut. Tapi karena menjadi guru bukanlah passion nya maka ia resign dan tetap menjalankan tugasnya hingga saat ini menjadi apoteker. Kakak kedua ku juga menjadi salah satu pendidik di SMKN 8 Jember dan lebih dari 1 dekade ia mengabdikan dirinya disana. Ketiga, adalah aku yang sedari kecil masih ingat dalam ingatan dulu saat masih SD orang tua kami membelikan papan tulis mulai dari ukuran yang kecil hingga yang besar. Yang gunanya adalah untuk sarana belajar.
Dan saat itu pula cita-citaku menjadi guru sedikit demi sedikit muncul. Dari mulai mengajari anak tetangga yang masih sekolah di TK untuk belajar menghitung, membaca, dll, Seolah menjadi guru seperti menerangkan dan memberi soal. Saat itu aku masih duduk di bangku sekitar kelas 5/6. Bapak dan Ibu pun menyeletuk jika aku ini nanti kalau sudah besar cocok jadi seorang guru. Kemudian beranjak dari sekolah MTs lalu MAN dan mondok di salah satu pesantren putri yang ada di Jl. Imam Bonjol disana dibekali ilmu yang juga aku tularkan ke santri-santri Bapakku. Kebetulan keluarga kami mempunyai mushola wakaf yang disana ada santrinya. Wal hasil akupun juga menjadi salah satu pengajar disana dari bekal ilmu yang sudah aku dapatkan di pesantren.
Alhamdulillah bisa mengamalkan ilmu agar bermanfaat. Setelah lulus dari MAN pergejolakan batin mulai terasa. Saat itu aku ingin kuliah di jurusan yang lain selain pendidikan karena rasanya bosan dan ingin mencoba hal yang lain. Ditambah lagi lulusan jurusan pendidikan sudah menjamur. Aku mencoba mendaftar di beberapa jurusan seperti hukum dan kesehatan. Tapi tidak ada satupun dari jurusan tersebut yang menerima aku. Karena memang dari awal orangtua mengarah untuk tetap mengambil jurusan PAI. Dan benar saja ketika aku mendaftar di jurusan tersebut aku malah diterima. Ternyata Ridho Allah itu tergantung ridho nya orangtua.
Dari kejadian tersebut aku baru sadar. Setelah menjalani masa kuliah 4 tahun akhirnya aku dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan. Setelah lulus kuliah aku memang belum berkeinginan untuk bekerja tetapi orangtua mengarahkan untuk segera melanjutkan di program Pascasarjana tetapi aku tidak mau dengan dalih malas untuk mikir dan mikir. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Kampung Inggris untuk mendalami Bahasa Inggris yang kebetulan menjadi salah satu pelajaran yang aku suka dari SD.
Setelah hampir 6 bulan lamanya aku belajar di Pare Kediri, aku memutuskan untuk pulang dan melamar di beberapa sekolah. Alhamdulillah pada tahun 2017 aku diterima di MTs Hasanuddin Semboro yang dulu tempatku menimba ilmu semasa Tsanawiyah. Disana aku belajar bagaimana menjadi guru yang profesional,cara menghadapi karakter berbagai macam siswa dsb. Dan di tahun 2018 aku mendapatkan panggilan dari MTs Negeri 7 Jember untuk mengikuti tes wawancara guna diterima menjadi guru disana.
Masih sangat jelas ketika itu ada Pak Soim yang menyeleksi di bidang kesiswaan dan pengalaman belajar. Kedua Pak Yatiman yang saat itu menyeleksi baca Al-Qur'an ku serta tajwid dan yang terakhir ada Pak Hermawan yang mengetes tentang penggunaan IT dalam proses belajar mengajar. Tes berjalan dengan baik dan akhirnya aku sah menjadi salah satu pendidik di MTs Negeri 7 Jember. Disinilah aku mulai belajar merajut asa, mendapat pengalaman baru yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Dan di madrasah inilah aku menjadi seperti saat ini, menjadi ASN PPPK yang dulu menjadi cita-cita semasa kecil. Berkat kegigihan, keuletan, kerja keras, Ridho orangtua serta pertolongan dari Allah aku dapat meraih ini semua. Terimakasih untuk semua yang sudah mendukung ku terutama suami, keluarga, sahabat, teman yang menjadi saksi sejarah jalan hidupku.
Komentar
Posting Komentar